Empati

Malam itu untuk pertama kalinya lagu itu terdengar. Kata-kata sederhana nan apik dibalut dengan lantunan musik yang indah. Shazam pun dalam sekejap menampilkan “Rectoverso – Curhat Buat Sahabat” di layarnya. Lenyap rasa heran itu sesaat.

Belum lama ini rak buku memang sedikit terobrak-abrik. Sebuah buku menjadi tujuan pencarian. Tangan ini membolak-balik lembarannya hingga menemukan kata-kata ajaib yang dimaksud. “Ya. Sebotol mahal anggur putih ada di depanmu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Sebotol air putih.”. Lagi. Seperti yang pernah tertulis beberapa tahun sebelumnya.

Waktu sengaja disisihkan kembali untuk mendengar. Membaca setiap yang tertulis di dalamnya. Lalu diri ini kembali menjadi manusia tanpa diminta. Raga yang terlalu jauh melangkah kembali dikuasai. Empati yang orang bilang terlalu besar, naif, dan bodoh itu ternyata akan terus menjadi bagian dan tidak akan pernah hilang dalam jiwa.

Ternyata ada dusta yang pernah terucap. Janji untuk tidak mempedulikan lagi apa yang orang lain rasakan tidak akan pernah terwujud sepenuhnya. Beberapa hal yang terjadi memang ditakdirkan tidak untuk dilupakan. Hanya perlu sedikit ocehan dan gelak tawa untuk membuat segalanya terasa biasa.

Mendarat

Kekecewaan mendalam, bertubi-tubi dalam satu masa, terkadang membawa diri ini menjadi seseorang yang tidak dapat dikenali lagi. Batas yang terlangkahi tanpa sadar menjadi inspirasi untuk turut mendobrak diri. Atau mungkin menggali bagian diri yang sebenarnya telah ada, sedikit disadari, namun berselindung atas nama sesuatu yang selama ini terlalu saya agungkan. Sesuatu yang saya sadari merupakaan suatu keniscayaan. Sesuatu yang dapat membawa diri ini setengah buta atas berbagai kekurangan yang ada.

Ada masanya ketika dunia ini menjadi satu-satunya dikejar. Segala hal yang membuat lupa untuk mengisi kebutuhan jiwa. Rasa kehilangan jati diri sebagai manusia semakin besar, sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat terkendalikan lagi, menuntut untuk segera terisi oleh hal-hal yang selama ini terlewatkan. Belakangan kelainan mata yang diderita itu pun berangsur sembuh, semakin jelas melihat berbagai kekurangan yang kini semakin sulit diterima.

Ketidakmampuan untuk sekedar menyampaikan apa yang dirasa, apalagi menuntut lebih jauh, membuat seluruh urat perasaan menjadi mati, membusuk, dan tidak ada artinya lagi. Sekejap rasanya sedang berada di luar angkasa, di mana teori relativitas waktu berlaku, dan volume ruang di dalamnya tak berisi atau kosong dari materi. Kemudian saya tersadar bahwa saya tidak tinggal di ruang angkasa. Saya berpijak di atas tanah, di mana segala teori mengenai ruang hampa udara itu adalah hal yang fana, di mana potongan-potongan materi itu dapat muncul dari arah mana saja.

Rasanya seperti terbang kemanapun angin membawa, sesuatu yang telah diyakini sebelumnya. Ringan, samar, rapuh, namun kencang. Cuaca ini membuat jarak pandang semakin mengabur. Hanya abu-abu tertutup awan. Hati kecil ini sadar bahwa suatu hari kedua kaki akan mendarat kembali berpijak di atas tanah, entah dalam keadaan jatuh dengan keras, ataupun dengan perlahan. Memaksa diri untuk segera melupakan betapa partikel dalam tubuh mungkin membuat kabut begitu berarti, karena sadar tempat berpulang. Rumah di atas bumi. Tidakkah awan dapat ikut turun dan berbaur dengan rumah yang telah dibangun? Terkadang ada hal berbeda yang ditakdirkan untuk tidak berada di dalam materi yang sama. Tuhan terlalu adil.

water-mistcrop

Sore itu pun tiba. Tidak keras, namun tidak perlahan. Kaki ini kembali menapak tanah. Berjalan dengan lemah, kosong, menampik pandangan aneh mahluk sekitar. Benak hanya menuju ke rumah. Setengah rubuh, tetapi mau tak mau harus dibangun kembali. Terlalu banyak hal yang termaknai. Tentang pembiaran diri untuk berlari, meringankan tubuh, dan membiarkan apapun yang membawanya. Tentang rasa iri yang tidak perlu lagi muncul, karena persepsi itu telah mencapai kesepakatan.

landscape-covered-in-fog-photo-by-Heather-Pichcrop

Atau bahkan terlampaui.

Relieve

I heard one or two – or maybe even more – it must be more – relieving breath in this moment. Showing up the best gratitude they’ve never given to others before. Last time I saw them smiled, knowing the last precious heart they’ve known for a long time struggling for her better world had been finally saved. The last one they’ve known. Furthermore our responsibility is only as far as be grateful of our destiny for being dissociated with the thing that undoubtly would bring us to the greatest fear we’ve ever thought about before. Something that couldn’t be worse for such a woman being. Now we’ll sit down here and watch. Another one was just got into huge trouble, a timed bomb packed in hillarious wraps that would explode in annual periods. The second, or even third calls would be arrived. And that might become the time people realized that something was wrong, not going wrong. We’re gonna be the first people said, “I told you,”. The time I finally say the same thing they usually told me in the past.

I would remember every song that was played, every word you said, every moment you stopped just to glance at me. I get much more than I want, you don’t realize. Despite of my own thought that I’m not grateful enough with my own life, I would asked myself of how could I be more grateful than this for having this one, this time. There’s one-two sacred, fundamental things called faith and sincerity that make everything seems to be fulfilled.

—–

I thought I just found something on what you had just said. You meant..

“Did you tell them about this?”
“Yes, I did,”

And I didn’t hear any objection.

“What is destined for us will be ours. It’s our duty to keep trying”

The Vow

“I’ve sworn for it…”

It left me with a silence. Something ready to burst, but I knew I shouldn’t be that happy and believe. And I drowned into self-contemplation, until I realize something: I’m affraid.

Isn’t this what I want for a long time? In fact, I start to worry about everything, financial, family relationship, and even those mature things. Am I ready yet? Well I should. And there wouldn’t be any words could describe how my feeling, how my life will be, if God gives us the chance this time. Kind of have a half of my dream will be reached. I couldn’t imagine how all of these kind of incredible things came to me in a sudden. Every little girl’s dream that by the time she grows up should be pressed in the name being of realistic, but apparently are ready to be started in the end, for an instant.

The most important thing I learn these days is, so typical actually, but, please, dare to dream. No, the most important thing is… there’s no fool dream. There’s only common, uncommon, prestigious, and subjectively unprestigious dreams. But every of it deserves a chance to be true. Regardless of what actually would be decided for me in the end, I just couldn’t hold this tons of happiness I’m feeling right now. Let me write every hope I was given.