Pengalaman dengan Kalazion

Pertama kali saya mengalami kalazion atau yang sehari-harinya lebih dikenal dengan istilah bintitan ini di tahun 2015, saat “roadshow” pekerjaan ke berbagai kota masih berlangsung. Dengan intensitas debu yang terpapar ke mata dan sedikit kebiasaan jorok mengucek mata, bintitan yang timbul di mata kiri disusul dengan mata kanan ini cukup cepat mengempis dan tidak begitu mengganggu aktivitas. Saat itu dengan pengetahuan awam dan saran dari Mama, saya menggunakan obat tetes dan salep Cendo Xytrol.

Namun beberapa bulan lalu bintitan ini kembali muncul tepatnya saat saya roadshow di Palembang. Dengan pembangunan LRT di sepanjang jalan perkotaannya, debu di Kota Palembang saat itu terasa begitu banyak. Malam sebelumnya saya juga ingat sempat mengucek-ngucek mata cukup lama karena mata begitu mengantuk sulit berkompromi saat saya masih menemani bowheer makan malam. Dalam perjalanan pulang di pesawat tiba-tiba mata saya terasa bengkak dan cukup sakit. Meskipun mencoba menggunakan Cendo Xytrol di malam harinya, esok paginya bintitan tersebut terasa semakin sakit hingga membuat kepala saya juga ikut terasa sakit.

Continue reading “Pengalaman dengan Kalazion”

Setrika

ironing3

Sehelai pakaian terbentang di lantai beralaskan selimut. Setrika disapukan di atasnya ketika suhu telah cukup panas. Baris demi baris kusut yang ada padanya mulai ditangani. Sementara itu ingatan mulai mengambang dan lari dari jalur semestinya. Semakin jauh ia pergi, semakin banyak luka itu kembali datang, meninggalkan rasa nyeri di hati. Sesuatu yang basah telah menumpuk di pelupuk mata, terkadang jatuh satu hingga dua tetes.

Continue reading “Setrika”

Proyeksi

Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cintai.

Dee – Peluk

Abu

Satu dua helai kertas itu terbakar. Menghanguskan noda-noda yang telah ada sebelumnya. Suhu tinggi membuatnya tak sadar bahwa api menjalar begitu saja dengan cepat. Hingga kertas-kertas itu habis berubah menjadi serpihan abu. Debu ringan yang hilang terbawa angin. Tanpa sisa, tanpa ada artinya lagi. Hanya tercium bau hangus terbakar, dan sedikit ingatan akan nyala api itu. Sudah terlanjur padam ketika semuanya telah berakhir. Tahu di mana pemadam berada tapi tak kuasa menggunakannya.

Untuk 8 Oktober 2016