Setrika

ironing3

Sehelai pakaian terbentang di lantai beralaskan selimut. Setrika disapukan di atasnya ketika suhu telah cukup panas. Baris demi baris kusut yang ada padanya mulai ditangani. Sementara itu ingatan mulai mengambang dan lari dari jalur semestinya. Semakin jauh ia pergi, semakin banyak luka itu kembali datang, meninggalkan rasa nyeri di hati. Sesuatu yang basah telah menumpuk di pelupuk mata, terkadang jatuh satu hingga dua tetes.

Continue reading “Setrika”

Abu

Satu dua helai kertas itu terbakar. Menghanguskan noda-noda yang telah ada sebelumnya. Suhu tinggi membuatnya tak sadar bahwa api menjalar begitu saja dengan cepat. Hingga kertas-kertas itu habis berubah menjadi serpihan abu. Debu ringan yang hilang terbawa angin. Tanpa sisa, tanpa ada artinya lagi. Hanya tercium bau hangus terbakar, dan sedikit ingatan akan nyala api itu. Sudah terlanjur padam ketika semuanya telah berakhir. Tahu di mana pemadam berada tapi tak kuasa menggunakannya.

Untuk 8 Oktober 2016

Mendarat

water-mistcrop

Kekecewaan mendalam, bertubi-tubi dalam satu masa, terkadang membawa diri ini menjadi seseorang yang tidak dapat dikenali lagi. Batas yang terlangkahi tanpa sadar menjadi inspirasi untuk turut mendobrak diri. Atau mungkin menggali bagian diri yang sebenarnya telah ada, sedikit disadari, namun berselindung atas nama sesuatu yang selama ini terlalu saya agungkan. Sesuatu yang saya sadari merupakaan suatu keniscayaan. Sesuatu yang dapat membawa diri ini setengah buta atas berbagai kekurangan yang ada.

Continue reading “Mendarat”

Relieve

I heard one or two – or maybe even more – it must be more – relieving breath in this moment. Showing up the best gratitude they’ve never given to others before. Last time I saw them smiled, knowing the last precious heart they’ve known for a long time struggling for her better world had been finally saved. The last one they’ve known. Furthermore our responsibility is only as far as be grateful of our destiny for being dissociated with the thing that undoubtly would bring us to the greatest fear we’ve ever thought about before. Something that couldn’t be worse for such a woman being. Now we’ll sit down here and watch. Another one was just got into huge trouble, a timed bomb packed in hillarious wraps that would explode in annual periods. The second, or even third calls would be arrived. And that might become the time people realized that something was wrong, not going wrong. We’re gonna be the first people said, “I told you,”. The time I finally say the same thing they usually told me in the past.

I would remember every song that was played, every word you said, every moment you stopped just to glance at me. I get much more than I want, you don’t realize. Despite of my own thought that I’m not grateful enough with my own life, I would asked myself of how could I be more grateful than this for having this one, this time. There’s one-two sacred, fundamental things called faith and sincerity that make everything seems to be fulfilled.

—–

I thought I just found something on what you had just said. You meant..

“Did you tell them about this?”
“Yes, I did,”

And I didn’t hear any objection.

“What is destined for us will be ours. It’s our duty to keep trying”

The Vow

“I’ve sworn for it…”

It left me with a silence. Something ready to burst, but I knew I shouldn’t be that happy and believe. And I drowned into self-contemplation, until I realize something: I’m affraid.

Isn’t this what I want for a long time? In fact, I start to worry about everything, financial, family relationship, and even those mature things. Am I ready yet? Well I should. And there wouldn’t be any words could describe how my feeling, how my life will be, if God gives us the chance this time. Kind of have a half of my dream will be reached. I couldn’t imagine how all of these kind of incredible things came to me in a sudden. Every little girl’s dream that by the time she grows up should be pressed in the name being of realistic, but apparently are ready to be started in the end, for an instant.

The most important thing I learn these days is, so typical actually, but, please, dare to dream. No, the most important thing is… there’s no fool dream. There’s only common, uncommon, prestigious, and subjectively unprestigious dreams. But every of it deserves a chance to be true. Regardless of what actually would be decided for me in the end, I just couldn’t hold this tons of happiness I’m feeling right now. Let me write every hope I was given.

Memaknai Bacaan Shalat

Sudah sejak lama terpikir untuk menge-share ini, dan cukup terkejut ketika ternyata saya didahului oleh seseorang yang menulis hal yang sama tentang ini. Hmmm, lupakan, tidak penting. Jadi ada masanya ketika ketika sudah terbiasa dengan “kewajiban” shalat (tergantung seseorang sudah menganggap hal tersebut sampai mana), dan kita mulai bertanya-tanya sebenarnya apa yang kita lakukan, apa arti dari yang kita ucapkan saat menjalankan kewajiban tersebut. Saya pernah membaca tentang tahap-tahap ini sebelumnya (walaupun bukan dalam konteks shalat, tetapi tadarus). Semua dimulai dari kewajiban, paksaan bahkan untuk beberapa orang, kemudian menjadi suatu rutinitas. Rutinitas yang dilakukan sekian lama tersebut membuat kita merasa tidak enak dan ada yang kurang apabila meninggalkannya, menjadikan hal tersebut suatu kebutuhan dalam hidup kita. Lupa persisnya. Namun yang pasti ada tahap dimana kita mulai memaknai apa yang kita lakukan tersebut.

Ada beberapa peristiwa yang membuat saya mempertanyakan shalat saya, dan setelah menemukan arti dalam setiap bacaan tersebut, saya lakukan pengartian itu saat menjalankannya. Hal itu cukup membuat saya lebih dapat berkonsentrasi dalam shalat, meskipun saya tahu itu belum sempurna. Tetapi setidaknya memaknai bacaan shalat membuat saya merasa lebih baik, mengerti apa yang saya lakukan. Perlu berbagai sumber untuk mengumpulkan arti bacaan shalat, karena bacaan shalat yang diajarkan di Al-Azhar ternyata memiliki sedikit perbedaan dengan bacaan umum lainnya, yaitu di bagian sujud, ruku, dan i’tidal. Namun setelah mencari tahu sekaligus menanyakan hal tersebut kepada teman yang lebih mengerti, memang terdapat bacaan versi tersebut.

DOA IFTITAH

INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN.

Kuhadapkan Wajahku Kepada Zat Yang Telah Menciptakan Langit Dan Bumi Dengan Penuh Ketulusan Dan Kepasrahan Dan Aku Bukanlah Termasuk Orang-Orang Yang Musyrik.

INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHIRABBIL ‘AALAMIIN.

Sesungguhnya Sahalatku, Ibadahku, Hidupku Dan Matiku Semuanya Untuk Allah, Penguasa Alam Semesta.

LAA SYARIIKA LAHUU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIIN.

Tidak Ada Sekutu Bagi-Nya Dan Dengan Demikianlah Aku Diperintahkan Dan Aku Termasuk Orang-Orang Islam.

AL-FATIHAH

BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

AL HAMDU LILLAAHI RABBIL ‘AALAMIIN.

Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.

ARRAHMAANIR RAHIIM.

Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

MAALIKIYAUMIDDIIN.

Penguasa Hari Pembalasan.

IYYAAKA NA’BUDU WAIYYAAKA NASTA’IINU.

Hanya Kepada-Mu lah Aku Menyembah Dan Hanya Kepada-Mu lah Aku Memohon Pertolongan.

IHDINASH SHIRAATHAL MUSTAQIIM.

Tunjukilah Kami Jalan Yang Lurus.

SHIRAATHAL LADZIINA AN’AMTA ‘ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUUBI ‘ALAIHIM WALADHDHAALLIIN. AAMIIN.

Yaitu Jalannya Orang-Orang Yang Telah Kau Berikan Nikmat, Bukan Jalannya Orang-Orang Yang Kau Murkai Dan Bukan Pula Jalannya Orang-Orang Yang Sesat.

RUKU’

SUBHAANAKALLAAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIH

Maha Suci Allah Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

I’TIDAL

SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.

Semoga Allah Mendengar (Menerima  Pujian Orang Yang Memuji-Nya (Dan Membalasnya).

RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBARAKAN FIIHI’

Wahai Tuhan Kami! Dan Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji yang banyak dan penuh keberkahan di dalamnya.

SUJUD

SUBHAANAKALLAAHUMMA RABBANAA WA BIHAMDIH

Maha Suci Allah Yang Maha Agung Dan Dengan Memuji-Nya.

DUDUK DIANTARA DUA SUJUD

RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WAHDINII WARZUQNII 

Ya Tuhanku ! Ampunilah Aku, Kasihanilah Aku, Cukupkanlah ( Kekurangan )-Ku, Berilah Aku Petunjuk, Berilah Aku Rezki

TASYAHUD AWAL

ATTAHIYYAATULILLAAH, WASSHALAWATU WATTHAYYIBAATU

Segala Kehormatan bagi Allah, dan Rahmat juga Kebaikan

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.

Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.

Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD.

Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad !.

TASYAHUD AKHIR

ATTAHIYYAATULILLAAH, WASSHALAWATU WATTHAYYIBAATU

Segala Kehormatan bagi Allah, dan Rahmat juga Kebaikan

ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH.

Semoga Keselamatan, Rahmat Allah Dan Berkah-Nya ( Tetap Tercurahkan ) Atas Mu, Wahai Nabi.

ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALAA ‘IBADADILLAAHISH SHAALIHIIN.

Semoga Keselamatan ( Tetap Terlimpahkan ) Atas Kami Dan Atas Hamba-Hamba Allah Yang Saleh.

ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH. WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH.

Aku Bersaksi Bahwa Tidak Ada Tuhan Selain Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah.

ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD ( tasyahud awal )WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.

Wahai Allah ! Limpahkanlah Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarga Penghulu Kami Nabi Muhammad.

KAMAA SHALLAITAA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.

Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Rahmat Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

WA BAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD.

Dan Limpahkanlah Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Muhammad Dan Kepada Keluarganya.

KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIM WA ‘ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAAHIIM.

Sebagaimana Telah Engkau Limpahkan Berkah Kepada Penghulu Kami, Nabi Ibrahim Dan Kepada Keluarganya.

FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUMMAJIID.

Sungguh Di Alam Semesta Ini, Engkau Maha Terpuji Lagi Maha Mulia.

ALLAAHUMMA INNI A’UDZUBIKA MIN ADZABI JAHANNAMA WA MIN ADZABIL QOBRI WA MIN FITNATIL MAHYAYA WAL MAMATI WA MIN SYARRI FITNATIL MASIHID DAJJAL

Ya Allah,aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam dan siksa kubur, dan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah kejahatan Al Masih Ad Dajjal”

Sumber: