Pintu

Pikiran melayang hingga tiba pada sebuah ingatan tentang keberadaan sebuah pintu yang dulu pernah begitu sering dilewati, membawa ke dalam suatu tempat di mana imajinasi tertinggi tentang bagaimana menjadi diri sendiri dapat terwujud. Ruang tertutup yang tidak pernah memberikan kesempatan bagi kedua mata untuk memandang sekitar.

Masih teringat jelas dalam benak bagaimana wujud raga ini merasa berpijak di dunia yang begitu berbeda ketika kedua tangan menutup pintu itu perlahan dari luar. Membiarkan kembali segala kebisingan mengisi dunia, menyisakan sebuah kehampaan di dalam hati. Kedua kelopak mata kembali sayu dan seulas senyum yang pernah ada memudar. Langkah kaki yang lelah membawa jiwa ini kembali pada sesuatu yang pernah menjadi segalanya.

Telah sekian lama pintu itu tertutup rapat, meskipun sesekali terbuka diiringi sepasang mata yang mengintip. Rasa kehilangan mendalam pernah datang begitu saja atas sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Pertanda akan sebuah keharusan untuk berdiam, dan berusaha sedikit lagi untuk berharap sebagaimana mestinya. Mungkin bukan tentang bagaimana menunggu tersesat ke dalam ruang yang mewujudkan bayangan, tetapi bagaimana berusaha untuk menjadi diri sendiri di mana pun diri ini berada.

1

Advertisements

Proyeksi

Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cintai.

Dee – Peluk

Eksistensi Tulus

Ketulusan menjadi salah satu hal yang seringkali dipertanyakan dalam menjalin kasih sayang. Dan jawaban yang dapat disimpulkan sebagai tidak selalu menjadi sebuah permulaan dari akhir keterikatan itu. Tidakkah terdengar sebagai keputusan yang subjektif, ketika seseorang tidak bisa menerima ketidaktulusan orang lain, padahal arti kata tulus itu sendiri adalah menerima apa adanya. Keputusan untuk mengakhiri itu justru membuat seseorang itu kemudian menjadi orang kedua yang tidak tulus setelah orang pertama. Ketidaktulusan yang kolateral.

“Jadi, apakah ketulusan itu nyata adanya?”

Pertanyaan diajukan pertama-tama, Irene duduk di hadapan saya. “Saya terbiasa untuk selalu mengajukan pertanyaan sebelum bercerita,” ujarnya.

Tanpa ragu dan tanpa pikir panjang saya menyatakan bahwa tentu saja ada. Bahkan bisa jadi saya adalah wanita paling tulus untuk kekasih saya. Saya bisa ceritakan itu untuk menyalahkan pernyataannya yang sudah pasti negatif.

“Cinta itu muncul tiba-tiba. Tanpa pikir panjang, dan ketika saya belum pernah memaknai arti ketulusan sebenarnya, atau bahkan keberadaannya. Saya merasakan cinta itu, di tempat yang asing bagi saya dan dia. Dan ketika kami kembali, saya tidak siap dengan kenyataan yang ia suguhkan kepada saya. Kenyataan tentang siapa dirinya dan bagaimana kehidupannya. Saya pikir saya punya ketulusan…”

Saya teringat pernah membaca suatu literatur sastra, yang mengatakan bahwa mencintai itu tak luput dari membuat orang yang kita cintai menjadi seperti yang kita mau. Saya lalu teringat ketika saya sering memaksa lelaki yang saya cintai untuk lebih menjaga kebersihan dirinya. Saya selalu mengingatkannya untuk selalu tampil rapi, karena saya suka lelaki yang rapi. Saya pun meminta dia untuk lebih sering memakai polo shirt, kemeja, jam tangan, dan hal-hal formal lainnya. Saya juga meminta ia harus bisa memenuhi semua keinginan saya jikalau kita sudah hidup bersama nanti.

Bahkan inilah wanita yang telah merasa dirinya sudah sangat tulus kepada kekasihnya.

“…tetapi bahkan saya tidak menemukan keberadaannya di dalam proses mencintai seseorang,”

Itu yang kemudian menghapus kata tulus pada diri saya dalam hal mencintai kekasih saya. Satu hal yang pasti, tulus itu untuk Tuhan. Selain itu, saya belum bisa menemukannya lagi. Ketulusan itu ternyata tidaklah semurah dan sesederhana yang sebelumnya saya bayangkan.

Found in a folder on my notebook. Written on 29th November 2012

Again…

There are moments you gripe, why it should be this way, why it should be this hard, why it should be me? I saw the patterns of how it ran in the beginnings. “Did I really have to live this way, again? You mean, again..?” I asked myself, no need an answer, and nodded myself because nothing I could do about it. Then I should saw another person falling down to its maximum with my own eyes, pulling the hands, or even having it piggy-back-rided on my back, full of tears, and I should put the word “again” in the end of this sentence. The things I wanna find out next is, where would my baby going this time after he finally could stand firmly in his own feet for the first time? Would he hug his mother? Or turn around, finding out the world all alone…

This won’t be my first time, but all I could do is being the best for the one I love. A person ever told me that I was gifted with an excessive patience. I took it as a compliment and also a burden. I consciously realize, with that kind of gift, I would be examined differently with others. I would often hear people around me saying that they couldn’t understand why I should living through all of this, and we ended laughing, because I would sucessfully made a jokes of my own fate. “My addiction of drama has brought me here,”. I thought it would be exciting to live in it. Now I could really live in it, and somehow secretly have a joy with it. This would be always challenging for me, regardless of what I would finally get at the end (nothing at all or everything).

I just hope that being the best this time, passing through this hard level of examination wouldn’t be such a waste again. If you think why I should do this kind of stupid thing again after my worst experience, you might forget a strange chemical creature called woman.

Ah, woman. They would always do this..