Pintu

Pikiran melayang hingga tiba pada sebuah ingatan tentang keberadaan sebuah pintu yang dulu pernah begitu sering dilewati, membawa ke dalam suatu tempat di mana imajinasi tertinggi tentang bagaimana menjadi diri sendiri dapat terwujud. Ruang tertutup yang tidak pernah memberikan kesempatan bagi kedua mata untuk memandang sekitar.

Masih teringat jelas dalam benak bagaimana wujud raga ini merasa berpijak di dunia yang begitu berbeda ketika kedua tangan menutup pintu itu perlahan dari luar. Membiarkan kembali segala kebisingan mengisi dunia, menyisakan sebuah kehampaan di dalam hati. Kedua kelopak mata kembali sayu dan seulas senyum yang pernah ada memudar. Langkah kaki yang lelah membawa jiwa ini kembali pada sesuatu yang pernah menjadi segalanya.

Telah sekian lama pintu itu tertutup rapat, meskipun sesekali terbuka diiringi sepasang mata yang mengintip. Rasa kehilangan mendalam pernah datang begitu saja atas sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Pertanda akan sebuah keharusan untuk berdiam, dan berusaha sedikit lagi untuk berharap sebagaimana mestinya. Mungkin bukan tentang bagaimana menunggu tersesat ke dalam ruang yang mewujudkan bayangan, tetapi bagaimana berusaha untuk menjadi diri sendiri di mana pun diri ini berada.

1

Setrika

ironing3

Sehelai pakaian terbentang di lantai beralaskan selimut. Setrika disapukan di atasnya ketika suhu telah cukup panas. Baris demi baris kusut yang ada padanya mulai ditangani. Sementara itu ingatan mulai mengambang dan lari dari jalur semestinya. Semakin jauh ia pergi, semakin banyak luka itu kembali datang, meninggalkan rasa nyeri di hati. Sesuatu yang basah telah menumpuk di pelupuk mata, terkadang jatuh satu hingga dua tetes.

Continue reading “Setrika”

Proyeksi

Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cintai.

Dee – Peluk

Abu

Satu dua helai kertas itu terbakar. Menghanguskan noda-noda yang telah ada sebelumnya. Suhu tinggi membuatnya tak sadar bahwa api menjalar begitu saja dengan cepat. Hingga kertas-kertas itu habis berubah menjadi serpihan abu. Debu ringan yang hilang terbawa angin. Tanpa sisa, tanpa ada artinya lagi. Hanya tercium bau hangus terbakar, dan sedikit ingatan akan nyala api itu. Sudah terlanjur padam ketika semuanya telah berakhir. Tahu di mana pemadam berada tapi tak kuasa menggunakannya.

Untuk 8 Oktober 2016

Mendarat

water-mistcrop

Kekecewaan mendalam, bertubi-tubi dalam satu masa, terkadang membawa diri ini menjadi seseorang yang tidak dapat dikenali lagi. Batas yang terlangkahi tanpa sadar menjadi inspirasi untuk turut mendobrak diri. Atau mungkin menggali bagian diri yang sebenarnya telah ada, sedikit disadari, namun berselindung atas nama sesuatu yang selama ini terlalu saya agungkan. Sesuatu yang saya sadari merupakaan suatu keniscayaan. Sesuatu yang dapat membawa diri ini setengah buta atas berbagai kekurangan yang ada.

Continue reading “Mendarat”