25 and The Best Gift

Been through so many unexpected, hard, things in life for the past several months, has made me become such a zero expectation human. I can’t be more ready to face the worst scenario in every aspect in my life. My job, my love life, my family. I feel like I’m gonna be okay if there’s something which is not really good happen on them, and be more okay if actually things that happens are good. My job is trying to make it good, but I don’t mind if the results aren’t that good. I call it destiny. For the sake of my health, mind and body, I do not expect anything, anymore. Anything. And life just be greater and easier to live, trust me.

And on that day I turned 25. One or two night before the day, Aldy said that it was the lowest point on him, that he couldn’t propose me right on my birthday. The payment from one of his biggest client hasn’t been done. And the spending of the 40 days pray of his grand mother’s left was just too much, he also contributed to it. Very wisely I said that my birthday is a happy day for me, but the day he propose me will be one of the beautiful day in my life, and it doesn’t always need to happen on the same day. I’m good at zero expecting, as I’ve said before.

I arrived at my office that morning and found my table had been decorated. Such a cute beginning, I thought. Half an hour later all of my friends came to me with two cakes and a gift (from Teh Dwi). That actually the first time my birthday were celebrated by quite lot of friends in my office. Usually the celebration only included my cubicle friends. We took some photos and shared the cake. Oh and I just remembered that usually Aldy came too to gave me surprises. The first, and the third years we celebrated my birthday at my office. On the second year I was sick that he gave me surprise in front of my boarding house. This year is the fourth year, and he’s not coming, I thought. But I’d asked him to have dinner with me in Dago Pakar. Well at least we would have a time to spend together on my birthday. Basicly I’m not a big-surprise fan.

After office hour, I went to Cafe Halaman where Aldy had a meeting with his colleagues. It was almost finished, and he went to pay the bill. He came back and some minutes later a waiter came and said there was something he need to ask Aldy. He went away again and came back, saying there was an error in his debit payment. Suddenly the music on the cafe played a birthday song, and my reflected action was, “what was that?”, a waiter came to my table bringing a pancake with an ice cream and chocolate sauce written “Happy Birthday Dinda”. Oh, that was just unpredictable, I must say.

The meeting was finally over and we decided to have dinner in Sierra. Teh Dwi recommended the restaurant because of  its good meal, affordable price, and magnificent view. And yes, I agree to her! I brought the gift from Teh Dwi and opened it there. “Here’s the gift from Teh Dwi,” I said to Aldy. “We’ll buy your gift tomorrow, ok?” he said to me. Did he really mean “we”? It must be a different gift, I thought, because “we” should buy it together. But what would it be? I was wondering. We finished our meal and I went to the spot where I could see that very sentimental view of Bandung. What a very breathtaking view. I went back to my table and back to my confuse. “Where are we going tomorrow?”. “Around Pasir Kaliki or maybe Saritem,”.

Continue reading “25 and The Best Gift”

Advertisements

Pintu

Pikiran melayang hingga tiba pada sebuah ingatan tentang keberadaan sebuah pintu yang dulu pernah begitu sering dilewati, membawa ke dalam suatu tempat di mana imajinasi tertinggi tentang bagaimana menjadi diri sendiri dapat terwujud. Ruang tertutup yang tidak pernah memberikan kesempatan bagi kedua mata untuk memandang sekitar.

Masih teringat jelas dalam benak bagaimana wujud raga ini merasa berpijak di dunia yang begitu berbeda ketika kedua tangan menutup pintu itu perlahan dari luar. Membiarkan kembali segala kebisingan mengisi dunia, menyisakan sebuah kehampaan di dalam hati. Kedua kelopak mata kembali sayu dan seulas senyum yang pernah ada memudar. Langkah kaki yang lelah membawa jiwa ini kembali pada sesuatu yang pernah menjadi segalanya.

Telah sekian lama pintu itu tertutup rapat, meskipun sesekali terbuka diiringi sepasang mata yang mengintip. Rasa kehilangan mendalam pernah datang begitu saja atas sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Pertanda akan sebuah keharusan untuk berdiam, dan berusaha sedikit lagi untuk berharap sebagaimana mestinya. Mungkin bukan tentang bagaimana menunggu tersesat ke dalam ruang yang mewujudkan bayangan, tetapi bagaimana berusaha untuk menjadi diri sendiri di mana pun diri ini berada.

1

Pengalaman dengan Kalazion

Pertama kali saya mengalami kalazion atau yang sehari-harinya lebih dikenal dengan istilah bintitan ini di tahun 2015, saat “roadshow” pekerjaan ke berbagai kota masih berlangsung. Dengan intensitas debu yang terpapar ke mata dan sedikit kebiasaan jorok mengucek mata, bintitan yang timbul di mata kiri disusul dengan mata kanan ini cukup cepat mengempis dan tidak begitu mengganggu aktivitas. Saat itu dengan pengetahuan awam dan saran dari Mama, saya menggunakan obat tetes dan salep Cendo Xytrol.

Namun beberapa bulan lalu bintitan ini kembali muncul tepatnya saat saya roadshow di Palembang. Dengan pembangunan LRT di sepanjang jalan perkotaannya, debu di Kota Palembang saat itu terasa begitu banyak. Malam sebelumnya saya juga ingat sempat mengucek-ngucek mata cukup lama karena mata begitu mengantuk sulit berkompromi saat saya masih menemani bowheer makan malam. Dalam perjalanan pulang di pesawat tiba-tiba mata saya terasa bengkak dan cukup sakit. Meskipun mencoba menggunakan Cendo Xytrol di malam harinya, esok paginya bintitan tersebut terasa semakin sakit hingga membuat kepala saya juga ikut terasa sakit.

Continue reading “Pengalaman dengan Kalazion”

Setrika

ironing3

Sehelai pakaian terbentang di lantai beralaskan selimut. Setrika disapukan di atasnya ketika suhu telah cukup panas. Baris demi baris kusut yang ada padanya mulai ditangani. Sementara itu ingatan mulai mengambang dan lari dari jalur semestinya. Semakin jauh ia pergi, semakin banyak luka itu kembali datang, meninggalkan rasa nyeri di hati. Sesuatu yang basah telah menumpuk di pelupuk mata, terkadang jatuh satu hingga dua tetes.

Continue reading “Setrika”

Proyeksi

Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cintai.

Dee – Peluk

Abu

Satu dua helai kertas itu terbakar. Menghanguskan noda-noda yang telah ada sebelumnya. Suhu tinggi membuatnya tak sadar bahwa api menjalar begitu saja dengan cepat. Hingga kertas-kertas itu habis berubah menjadi serpihan abu. Debu ringan yang hilang terbawa angin. Tanpa sisa, tanpa ada artinya lagi. Hanya tercium bau hangus terbakar, dan sedikit ingatan akan nyala api itu. Sudah terlanjur padam ketika semuanya telah berakhir. Tahu di mana pemadam berada tapi tak kuasa menggunakannya.

Untuk 8 Oktober 2016