Pengalaman dengan Kalazion

Pertama kali saya mengalami kalazion atau yang sehari-harinya lebih dikenal dengan istilah bintitan ini di tahun 2015, saat “roadshow” pekerjaan ke berbagai kota masih berlangsung. Dengan intensitas debu yang terpapar ke mata dan sedikit kebiasaan jorok mengucek mata, bintitan yang timbul di mata kiri disusul dengan mata kanan ini cukup cepat mengempis dan tidak begitu mengganggu aktivitas. Saat itu dengan pengetahuan awam dan saran dari Mama, saya menggunakan obat tetes dan salep Cendo Xytrol.

Namun beberapa bulan lalu bintitan ini kembali muncul tepatnya saat saya roadshow di Palembang. Dengan pembangunan LRT di sepanjang jalan perkotaannya, debu di Kota Palembang saat itu terasa begitu banyak. Malam sebelumnya saya juga ingat sempat mengucek-ngucek mata cukup lama karena mata begitu mengantuk sulit berkompromi saat saya masih menemani bowheer makan malam. Dalam perjalanan pulang di pesawat tiba-tiba mata saya terasa bengkak dan cukup sakit. Meskipun mencoba menggunakan Cendo Xytrol di malam harinya, esok paginya bintitan tersebut terasa semakin sakit hingga membuat kepala saya juga ikut terasa sakit.

Dengan sakit yang sudah terlalu mengganggu aktivitas, saya pun memutuskan ke dokter spesialis mata di salah satu rumah sakit swasta di daerah Cihampelas. Dari hasil browsing, diketahui bintitan dapat disebabkan oleh virus atau bakteri, sehingga obat yang diberikan pun tidak boleh sembarang. Jika tidak sesuai malah justru akan semakin memperparah bintitan. Dokter yang menangani saya saat itu adalah dr. Dian spM. Selain memeriksa bintitan, minus mata saya juga dicek oleh beliau. Saat itu tidak dijelaskan vonis/istilah medis atas yang saya alami, hanya dijelaskan bahwa bintitan ini disebabkan karena perilaku yang kurang bersih yakni mengucek-ngucek mata. Saya diberikan resep berupa LFX Minidose tetes dan Cendo Tobroson salep. Apabila bintitan belum mengempis dalam waktu seminggu saya diminta untuk kembali ke dokter.

LFX tetes digunakan sebanyak 4 kali sehari, yaitu pagi, siang, sore, dan malam masing-masing satu tetes. LFX ini diteteskan pada bagian dalam bawah mata. Perlu diperhatikan bahwa satu tube kecil LFX tersebut hanya boleh digunakan selama 2 hari semenjak tubenya terbuka. Hal ini diperlukan untuk menjaga kesterilan cairan antibiotik yang akan digunakan ini. Sementara itu, salep Cendo Tobroson juga diberikan pada bagian dalam bawah mata dengan ketentuan bahwa ujung tube salep tidak boleh terkena dengan tangan. Hal ini juga untuk menjaga kesterilan salep. Salep ini digunakan sebelum tidur malam dan sebelum tidur siang (jika memang tidur siang). Setelah bangun dari tidur, kita diharuskan membersihkan bekas salep tersebut dengan kapas yang sudah dibersihkan air hangat.

Tiga hari saya menggunakan obat tetes dan salep tersebut, rasa sakit bintitan tersebut hilang. Hanya saja bengkak/bintit itu sendiri tidak mengempis hingga lebih dari seminggu. Saya pun kembali ke dr. Dian, dengan prediksi bahwa kemungkinan besar bintitan ini akan diambil (insisi) melalui operasi kecil. Hal ini saya ketahui berdasarkan pengalaman teman sekantor yang juga pernah mengalami hal yang sama beberapa tahun yang lalu dan akhirnya dilakukan insisi untuk mengeluarkan bintitan tersebut. Saat itu insisi dilakukan di Apotek Setiabudi Bandung dengan biaya sekitar 500 ribu rupiah. Saat berkonsultasi lagi dengan dr. Dian, disarankan bagi saya untuk dilakukan operasi/insisi kalazion tersebut (saya baru mengetahui istilah ini pada akhirnya), karena jika tidak, kalazion ini dapat menjadi keras di dalam mata.

Surat operasi pun dibuat oleh dokter. Saya yang ingin mengetahui seluruh biaya operasi dapat menanyakan rincian biaya pada bagian operasi di lantai lain. Dengan bayangan bahwa biaya insisi tidak akan jauh dari biaya jasa operasi dokter (tertulis 1 juta rupiah di surat tersebut), saya cukup terkejut dengan rincian biaya yang diakhir mencapai 4 juta rupiah. Ternyata terdapat biaya sewa ruangan operasi setengah hari, dan juga sewa peralatan medis yang masing-masing dirinci. Dengan kondisi BPJS yang belum berpindah kota (masih di Bekasi), dan tidak memiliki asuransi lain, saya pun berencana untuk mencari alternatif klinik atau rumah sakit khusus mata lain yang biasanya memiliki biaya yang lebih terjangkau untuk penanganannya.

Dalam beberapa hari saya mencoba menanyakan ke keluarga dan teman-teman rekomendasi dokter, klinik, maupun rumah sakit untuk insisi mata. Saya pun mencoba mencari klinik lain tempat dr. Dian praktik, namun sayangnya di klinik Kimia Farma Setiabudi dr. Dian tidak dapat melakukan operasi dikarenakan ketidaktersediaan alat-alat untuk insisi. Ada yang menyarankan ke klinik mata Netra, Bandung Eye Center, dan RS Mata Cicendo. Dari ketiga saran tersebut, saya coba menghubungi Bandung Eye Center dan RS Mata Cicendo via telepon terlebih dahulu. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, di Bandung Eye Center biaya insisi sekitar 490 ribu rupiah, ditambah dengan konsul dokter sekitar 250 ribu rupiah dan obat, maka kemungkinan biaya total 1 juta rupiah. Sementara itu di RS Mata Cicendo, untuk paviliun (bukan umum yang biasanya sangat mengantri), biaya insisi berbeda-beda tergantung kelas. Kelas I: sekitar 500 ribu rupiah dan kelas III sekitar 340 ribu rupiah, dengan biaya konsultasi dokter 160 ribu rupiah. Dengan biaya yang jauh lebih kecil dan rasional untuk penanganan bintitan mata, saya pun berencana untuk ke Bandung Eye Center dengan pertimbangan pelayanan yang sepertinya lebih cepat tanpa menunggu (menurut testimoni pasien dari internet).

Namun, saat akan memutuskan untuk melakukan insisi, tiba-tiba bintitan saya semakin mengempis hingga dalam beberapa hari menghilang. Ada beberapa orang yang bilang, sebenarnya jika bintitan yang terlalu lama tidak diangkat akan menyebabkan bintitan lagi di lain waktu. Mungkin bintitan kali ini adalah bintitan di kelenjar yang sama di tahun lalu, karena saya ingat persis mata yang pertama kali bintitan adalah mata kiri terlebih dahulu. Jika bintitan ini kembali muncul saya sepertinya akan melakukan insisi di Bandung Eye Center atau di RS Mata Cicendo.

Dari pengalaman tersebut, berobat ke dokter mata saat pertama kali mengalami bintitan menurut saya sangat penting untuk menentukan obat mana yang tepat untuk mengobatinya. Dengan demikian, selanjutnya apabila mengalami bintitan, saya bisa tahu harus menggunakan obat apa tanpa khawatir akan memperparah bintitan, karena kemungkinan jenis bintitan yang dialami sama dengan yang sebelumnya. Dan semenjak itu, jika merasakan gejala yang sama akan terjadi bintitan (mata agak sakit), saya segera menggunakan LFX tetes dan Cendo Tobroson salep. Biasanya gejala tersebut akan langsung hilang dalam waktu sehari dan bintitan tersebut tidak jadi muncul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s