Mendarat

water-mistcrop

Kekecewaan mendalam, bertubi-tubi dalam satu masa, terkadang membawa diri ini menjadi seseorang yang tidak dapat dikenali lagi. Batas yang terlangkahi tanpa sadar menjadi inspirasi untuk turut mendobrak diri. Atau mungkin menggali bagian diri yang sebenarnya telah ada, sedikit disadari, namun berselindung atas nama sesuatu yang selama ini terlalu saya agungkan. Sesuatu yang saya sadari merupakaan suatu keniscayaan. Sesuatu yang dapat membawa diri ini setengah buta atas berbagai kekurangan yang ada.

Ada masanya ketika dunia ini menjadi satu-satunya dikejar. Segala hal yang membuat lupa untuk mengisi kebutuhan jiwa. Rasa kehilangan jati diri sebagai manusia semakin besar, sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat terkendalikan lagi, menuntut untuk segera terisi oleh hal-hal yang selama ini terlewatkan. Belakangan kelainan mata yang diderita itu pun berangsur sembuh, semakin jelas melihat berbagai kekurangan yang kini semakin sulit diterima.

Ketidakmampuan untuk sekedar menyampaikan apa yang dirasa, apalagi menuntut lebih jauh, membuat seluruh urat perasaan menjadi mati, membusuk, dan tidak ada artinya lagi. Sekejap rasanya sedang berada di luar angkasa, di mana teori relativitas waktu berlaku, dan volume ruang di dalamnya tak berisi atau kosong dari materi. Kemudian saya tersadar bahwa saya tidak tinggal di ruang angkasa. Saya berpijak di atas tanah, di mana segala teori mengenai ruang hampa udara itu adalah hal yang fana, di mana potongan-potongan materi itu dapat muncul dari arah mana saja.

Rasanya seperti terbang kemanapun angin membawa, sesuatu yang telah diyakini sebelumnya. Ringan, samar, rapuh, namun kencang. Cuaca ini membuat jarak pandang semakin mengabur. Hanya abu-abu tertutup awan. Hati kecil ini sadar bahwa suatu hari kedua kaki akan mendarat kembali berpijak di atas tanah, entah dalam keadaan jatuh dengan keras, ataupun dengan perlahan. Memaksa diri untuk segera melupakan betapa partikel dalam tubuh mungkin membuat kabut begitu berarti, karena sadar tempat berpulang. Rumah di atas bumi. Tidakkah awan dapat ikut turun dan berbaur dengan rumah yang telah dibangun? Terkadang ada hal berbeda yang ditakdirkan untuk tidak berada di dalam materi yang sama. Tuhan terlalu adil.

Sore itu pun tiba. Tidak keras, namun tidak perlahan. Kaki ini kembali menapak tanah. Berjalan dengan lemah, kosong, menampik pandangan aneh mahluk sekitar. Benak hanya menuju ke rumah. Setengah rubuh, tetapi mau tak mau harus dibangun kembali. Terlalu banyak hal yang termaknai. Tentang pembiaran diri untuk berlari, meringankan tubuh, dan membiarkan apapun yang membawanya. Tentang rasa iri yang tidak perlu lagi muncul, karena persepsi itu telah mencapai kesepakatan.

landscape-covered-in-fog-photo-by-Heather-Pichcrop

Atau bahkan terlampaui.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s