Eksistensi Tulus

Ketulusan menjadi salah satu hal yang seringkali dipertanyakan dalam menjalin kasih sayang. Dan jawaban yang dapat disimpulkan sebagai tidak selalu menjadi sebuah permulaan dari akhir keterikatan itu. Tidakkah terdengar sebagai keputusan yang subjektif, ketika seseorang tidak bisa menerima ketidaktulusan orang lain, padahal arti kata tulus itu sendiri adalah menerima apa adanya. Keputusan untuk mengakhiri itu justru membuat seseorang itu kemudian menjadi orang kedua yang tidak tulus setelah orang pertama. Ketidaktulusan yang kolateral.

“Jadi, apakah ketulusan itu nyata adanya?”

Pertanyaan diajukan pertama-tama, Irene duduk di hadapan saya. “Saya terbiasa untuk selalu mengajukan pertanyaan sebelum bercerita,” ujarnya.

Tanpa ragu dan tanpa pikir panjang saya menyatakan bahwa tentu saja ada. Bahkan bisa jadi saya adalah wanita paling tulus untuk kekasih saya. Saya bisa ceritakan itu untuk menyalahkan pernyataannya yang sudah pasti negatif.

“Cinta itu muncul tiba-tiba. Tanpa pikir panjang, dan ketika saya belum pernah memaknai arti ketulusan sebenarnya, atau bahkan keberadaannya. Saya merasakan cinta itu, di tempat yang asing bagi saya dan dia. Dan ketika kami kembali, saya tidak siap dengan kenyataan yang ia suguhkan kepada saya. Kenyataan tentang siapa dirinya dan bagaimana kehidupannya. Saya pikir saya punya ketulusan…”

Saya teringat pernah membaca suatu literatur sastra, yang mengatakan bahwa mencintai itu tak luput dari membuat orang yang kita cintai menjadi seperti yang kita mau. Saya lalu teringat ketika saya sering memaksa lelaki yang saya cintai untuk lebih menjaga kebersihan dirinya. Saya selalu mengingatkannya untuk selalu tampil rapi, karena saya suka lelaki yang rapi. Saya pun meminta dia untuk lebih sering memakai polo shirt, kemeja, jam tangan, dan hal-hal formal lainnya. Saya juga meminta ia harus bisa memenuhi semua keinginan saya jikalau kita sudah hidup bersama nanti.

Bahkan inilah wanita yang telah merasa dirinya sudah sangat tulus kepada kekasihnya.

“…tetapi bahkan saya tidak menemukan keberadaannya di dalam proses mencintai seseorang,”

Itu yang kemudian menghapus kata tulus pada diri saya dalam hal mencintai kekasih saya. Satu hal yang pasti, tulus itu untuk Tuhan. Selain itu, saya belum bisa menemukannya lagi. Ketulusan itu ternyata tidaklah semurah dan sesederhana yang sebelumnya saya bayangkan.

Found in a folder on my notebook. Written on 29th November 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s