judul cerpennya apa ya?

Sore yang mendung kala itu. Tak akan ada sesuatu yang spesial darinya. Kecuali hawa dingin nan sejuk, spesial untuk kota polusi semacam Jakarta. Rintik-rintik gerimis sisa dari hujan lebat tadi sesekali menyapa kulitku. Menggoda, membuatku terayu untuk setidaknya membaringkan tubuh di peraduan saat sampai di rumah nanti. Terkantuk-kantuk aku menaikkan langkah kakiku ke angkutan umum di ujung gang itu. Kupandangi orang-orang yang akan menjadi kawan seperjalananku untuk beberapa menit ke depan. Tak satupun kutemukan semangat di muka mereka. Rutinitas bedebah, batinku.

Kendaraan mulai berjalan. Aku mendorong jendela reyot angkutan umum ini. Menikmati udara yang jarang kurasakan. Udara yang jika terus ada, akan membuat orang berpikir dua kali untuk menggunakan air conditioner di mobilnya. Tak akan ada lagi tingkat polusi yang tinggi, tak akan ada global warming, dan tak akan ada kiamat.*

Aku hampir menyusuri dunia mimpi ketika tiba-tiba, sosok itu, masuk ke mobil, dan menjadi kawan seperjalanan baruku. Ia menduduki kotak kayu di samping pintu. Mataku terbelalak.

Dan aku resmi menjadi orang pertama yang bersemangat di kendaraan ini.

Edric. Manusia millennium* itu. Atau lebih tepatnya, penguasa dunia millennium mini itu. Dalam ruangan berukuran sekitar 3 x 5 meter, dia menjadi pengontrol dunia maya. Membantu seseorang saat mendapat hambatan untuk menjelajahi dunia tanpa batas. Tanpa peduli udara pengap jika listrik turun dan membuat air conditioner mati suri. Kapanpun, jika ia ada, ia siap membantu kita. Kita, para user.

Aku menyusuri kembali ruang ingatan dua minggu yang lalu. Saat Tuhan mempertemukan kami tanpa sengaja. Saat itu, bersama adikku, aku sekedar ingin mencoba dunia millennium yang baru dibangun. Pertama kali aku melihatnya, aku tak yakin harus memanggilnya “Mas”. Mukanya terlalu mulus dan cerah. Bibirnya terlalu merah. Ia terlalu cantik. Rambutnya stylish, seperti baru diblow. Tujuan akhir dari kemolekan seorang lelaki.

Setelah menanyakan ketersediaan yang kubutuhkan di dunia millennium itu, aku dan adikku, masih dengan perasaan shock setelah melihat mahluk Tuhan yang satu ini, mulai menjelajah. Shock itu perlahan berubah menjadi luapan senang yang tak bisa membuatku berhenti tersenyum,

“Hei…” bisikku pada Adik.
Adik mengangkat kepalanya.
“Dia…ganteng yah” ujarku meyakinkan.
Ia tersenyum. “Siapa bilang, tidak”

Satu hal yang kusadari saat itu. Aku tidak bermimpi. Aku masih waras. Dan minus mataku belum bertambah. Senyumanku semakin lebar. Tak sadar kalau mulutku sudah terlalu pegal untuk tersenyum lagi.

Konsentrasiku kembali tertuju pada apa yang kubutuhkan selama ini dari dunia maya. Beberapa kali aku mengklik icon itu. Tak ada reaksi. Tunggu, kenapa tak bisa? Ada sesuatu yang salah. Dan siapa yang bisa membantuku?
“Si Manusia Millennium,” sesuatu yang gaib membisikiku.

Ini saatnya, pikirku. Saat untuk mengenalnya. Saat untuk mengetahui segala sesuatu tentangnya. Tapi semua itu tergoyahkan.

Aaaah, tidak, aku tak bisa melakukannya, kecuali nanti tak ada kata-kata yang berhasil keluar lewat mulutku setelah tersangkut di tenggorokan, tergantikan oleh senyuman kelewat senang yang tak wajar.

“Dik, Tanya gih,” aku melimpahkan penderitaan pada perempuan yang dari tadi ikut denganku.

Cukup mudah membaca ekspresi malunya,”Ngga mau ah, Kakak aja” senyumnya muncul.

“KAU SAJA!” aku berusaha marah, tapi entah mengapa tetap senyum yang keluar. Perasaan indah itu mengalahkan rasa amarah.

Adik pasti merasa pasrah. Nasib hidupnya adalah menjadi anak yang telat dilahirkan dibanding aku. Dan sebagai anak yang terlahir 4 tahun lebih dulu, aku berkuasa atas dirinya. Itulah yang membuatnya berjalan menuju singgasana Penguasa Dunia Millennium sekarang.

Sang Raja bangkit dan menuju tempatku duduk (kini aku bisa melihat dengan jelas apa yang sedang ia pakai : celana pendek di bawah lutut serta kaos). Bayangku saat itu akan terjadi adegan yang pernah ada di sinetron Yasmin. Aku memegang mouse dan ia menaruh tangannya di atas tanganku. Kami menjelajah bersama.

Suaranya membuyarkan lamunanku.

“Pindah ke komputer yang di ujung sana. Usernya akan saya pindahkan,” ujarnya dengan dingin, namun santai. Aku terlalu memperhatikan suaranya sampai-sampai sekarang aku tak ingat lagi bagaimana bunyinya.

Tiga jam kemudian, setelah aku puas menjelajah—tak lupa sambil tersenyum, aku berkunjung ke singgasananya. Lagi-lagi aku harus terlibat komunikasi dengannya.

Dan dengan segala kekuatan untuk berhenti tersenyum, aku bertanya berapa yang harus kubayar, merogoh kantong untuk mengambil selembar uang, dan menerima kembalian.
“Makasih”
“Makasih”
Hampir bersamaan kami mengucapkan terima kasih. Oh, lelaki yang berbudi, pikirku.

Esoknya Adik mengajakku kembali ke dunia millennium yang menegangkan itu. “Tidak” tolakku. Itu menghabiskan terlalu banyak energi, terutama untuk menahan senyum, tambahku. Dan aku pun membiarkannya pergi menjelajah seorang diri.
Sore itu, dilewati dengan datangnya kabar cukup mengejutkan dari Adik sepulangnya dari sana. “Ia tak ada lagi,” ujarnya lemas. “Digantikan orang lain,”
Saat itu aku tak tahu rencana Tuhan untukku bertemu dengannya lagi.

Dan siapa sangka, hari ini, adalah waktu yang telah Tuhan atur sebelumnya. Dan angkutan umum, menjadi pilihan tempat pertemuanku yang kedua dengannya.

“Kiri, Bang” ujar seorang ibu-ibu. Ia pun kemudian turun dari angkutan.

Ia—Edric, yang kukira akan tetap bertahan duduk di atas kotak kayu samping pintu, untuk menghirup udara yang segar ini, ternyata beranjak dan masuk ke kursi dalam. Sebelah kiri depanku.

Aku, yang saat itu duduk di paling pojok, berusaha mengelak dari perasaan yang amat sangat menyenangkan ini. Sial, senyum gilaku mulai kambuh lagi. Aku bingung ingin memandang ke mana. Ke depanku, tidak mungkin. Sudut pandang mataku yang luas akan menyisipkan sosoknya ke dalam pandanganku. Ke jendela sampingku, lagi-lagi sudut pandang yang luas. Dan akhirnya, pilihan jatuh ke jendela belakang. Ya, jendela belakang. Aku memalingkangkan mukaku darinya.

Tetapi senyum ini tetap tersungging di bibirku. Another trick to hide it, aku menopang daguku dengan tangan, menutup sisi kiri mulutku. Dan aku bebas tersenyum, meluapkan kesenangan tak terkira ini.

Sesekali aku mencuri-curi pandang. Saat kutahu ia sedang menengok ke kiri, aku sejenak memandangnya. Ya, ia benar-benar si Raja Millennium itu. Ia terlihat sama tampannya dengan penampilannya yang terakhir, dua minggu yang lalu. Kuperhatikan lagi apa yang ia pakai saat itu : celana pendek, entah seberapa panjang, dan yang pasti ketika ia duduk, memungkin lututnya untuk terlihat. Ia memakai atasan semacam sweater rajutan. Simpel tetapi tetap indah, pikirku.

Aku berharap ia sekali saja menatapku. Setidaknya agar ia ingat aku adalah wanita yang pernah menjadi usernya. Tak perlu lama dan lekat-lekat. Hanya untuk menyadari kehadiranku. Dan itu memang terjadi. Suatu kejutan dari Tuhan untukku. Aku merasa ia menatapku. Sejenak tapi kurasa lumayan lekat. Aku mencoba menerka apa yang mungkin sekarang timbul di benaknya. Apakah bukankah ia pernah menjadi userku? Apakah ternyata dia anak SMA, atau wanita ini anggun juga, atau yang paling indah adalah gabungan dari semua itu.

Bukankah ia pernah menjadi userku? Ternyata dia anak SMA. Tetapi kurasa wanita ini anggun juga… :mrgreen:

Tiba-tiba perasaan ini semakin memuncak tatkala hanya tinggal beberapa meter lagi aku sampai ke depan rumah. Sebentar lagi senyum ini akan bertransformasi menjadi sebuah tawa. Tawa yang mengakak, sepertinya. Di detik-detik terakhir ini, aku mengeluarkan senjata terakhirku. Kugigit perlahan lidahku sendiri dan kutekan kulitku dengan kuku jariku yang lumayan tajam. Done! Tawa yang siap meledak bisa sedikit kuatasi.

Kemudian kupersiapkan suara seindah mungkin, agar suara serak yang biasanya keluar dari tenggorokanku karena selama perjalanan aku hanya terdiam, tidak keluar kali ini.

“Kiri, Bang,” ujarku penuh kemenangan.

Sekali lagi Edric menatapku. Aku berusaha mengartikan pandangan itu. Oh, jadi ini rumahnya, mungkin begitu.

Aku beranjak dari kursi kemudian berjalan menunduk, membelakanginya, turun dari mobil itu, kemudian membayar ongkos.

Aku membiarkan angkutan umum itu berlalu. Rasanya ingin sekali aku memandang sekali lagi mobil itu. Menembus jendela belakang dan sampai pada sosoknya. Apakah ia kembali menatapku seiring dengan semakin menjauhnya mobil dari tempakut berdiri sekarang?

Persetan, peduli apa ia denganku? Dan peduli apa aku dengannya? Kami bahkan belum saling mengenal. Edric adalah nama buatanku sendiri untuknya, karena pertama kali bertemu dengannya, sekilas ia tampak seperti Edric, seleb yang menurutku lumayan patut dikagumi, physicly. Tuhan mempertemukan aku dengan Edric, mahluk yang Ia ciptakan hampir sempurna, dan itu sebatas fisik, untuk membuatku sadar akan kekuasaan-Nya. Tuhan ingin menunjukkan kebesaran-Nya kepadaku. Dan patutkah aku lebih mengagumi sosok Manusia Millennium yang baru kutemui dua kali itu,dibandingkan Tuhan yang selalu setia menemaniku sejak aku lahir?

Seketika itu juga, aku mengurungkan niatku untuk memberitahu Adik tentang kejadian ini.

*Tak ada kiamat : Hanya semacam majas hiperbola. Maksud sebenarnya, tak akan ada kiamat yang dipercepat dengan adanya global warming.
*Lelaki millennium : Frase yang kudapatkan dari novel Petir karya Dee. Menggambarkan seseorang yang ahli internet.

have no idea for the title. does anybody have? 😀

Advertisements

3 thoughts on “judul cerpennya apa ya?

  1. wakakakak.. 😀 , kayaknya lo rada lebay deh din bikin cerpennya. tapi baguuss.. keren, gue saranin, judulnya “Aku dan Manusia Millenium” 🙂
    kayaknya ini yg lo ceritain waktu di angkot itu kan? yang penjaga warnet yang guanteeng.. hehehe 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s