mau apa lagi?

“…belajarlah yang rajin, nak. raihlah prestasi yang baik di sekolah ini, saya yakin orang tua kalian akan bangga dan puas jika kalian bisa mendapatkan nilai yang bagus…”

Masih dengan mata sembap, gue perhatiin guru biologi gue yang lagi nasehatin murid-murid di kelas.

I don’t get it…

Advertisements

“…belajarlah yang rajin, nak. raihlah prestasi yang baik di sekolah ini, saya yakin orang tua kalian akan bangga dan puas jika kalian bisa mendapatkan nilai yang bagus…”

Masih dengan mata sembap dan rada bengkak, gue perhatiin guru biologi gue yang lagi nasehatin murid-murid di kelas.

I don’t get it…

Entah si Ibu itu punya indera keenam atau feeling yang kuat, gue yang tadinya lagi ngelamun tiba-tiba jadi merhatiin omongannya. Pengen rasanya nyanggah omongan dia saat itu juga. Ngga semua orang tua puas hanya dengan prestasi sekolah, Bu. Kadang ada juga orang tua yang menuntut keperfectan dari anaknya, walaupun si anak ngga mungkin punya kesempurnaan sehebat itu.

Kemaren maghrib, gue ngelakuin sedikit kesalahan. Sepele banget. Dan gue pikir seharusnya mereka ngga perlu ‘sengamuk’ itu. Ngga mau memperpanjang masalah, akhirnya gue tidur-tiduran di kamar sambil main hp. And suddenly she came to my room with a really angry feelings, irritated me, the unpredictable thing was that she did ‘it’ to me, and…hey, lampu kamar gue tiba-tiba putus, mendramatisir suasana. Then she went out and threw the door over loudly, ngga lupa sambil maki-maki gue.

Gue mikir, yang barusan dia lakuin tadi parah, itu parah. Karena ngga tahan gue langsung nangis abis-abisan, tau kan? Maksudnya nangis sampe sesek napas. Belum pernah gue nangis sampe sesakit itu. Mana waktu itu gelap-gelapan lagi. Gue ngga tahan. Mereka menuntut terlalu banyak dari gue. I have to be perfect for them. Do everything without any false, just like a stuppid robot.

Setelah agak tenang, akhirnya gue langsung ceritain ke temen gue lewat msn, and…hell, gue ngga tahan buat ngga nangis lagi. Apalagi setelah dia nasehatin gue macem-macem dan nyadarin gue kalo sebenarnya gue punya banyak masalah lain selain masalah gue waktu itu. Makasih ya, teman 🙂 . Setelah gue lega cerita, tengah malem akhirnya gue baru tidur, dan ngga yakin gue bisa masuk sekolah besoknya karena ngga dibangunin.

Hari itu gue ngalamin KDRT. Well, dilemparin tas sekolah yang beratnya hampir 5 kilo itu termasuk KDRT ngga sih? That’s what I mean with ‘it’ in the 4th paragraph…

9 thoughts on “mau apa lagi?

  1. Hidup itu terkadang susah kita tebak kemana arahnya. Tapi yang jelas kmu sendiri harus punya tujuan hidup yang jelas dulu. Memang terkadang orang tua secara tidak sadar menjadikan kita sebagai robotnya (for example : ada suatu waktu orang tua memaksa anaknya untuk jadi tentara, usut punya usut ternyata dulunya orang tuanya pernah daftar tentara tapi ga masuk jadi sekarang memaksa anaknya biar bisa masuk). Sering tidak sadar itu terjadi. Walaupun begitu kita tetap harus menghargai ortu kita. Karena beliaulah yang membesarkan kita. Protes boleh.. tapi gunakan bahasa yang santun. Jangan hanya gunakan ego kita tapi belajar realistis. Karena sesungguhnya ortu kita punya pengalaman hidup yang lebih banyak…

    Sukses Yach, don’t be Sad again… Chayo.. 🙂

  2. dindameee
    kasian nya kau. hiks. hiks.
    tapi kalau gue, entah kenapa gue udah tahan sama semua KDRT onoh.
    digebuk, ditendank, disambit(yg ini lebay -_-), wah gue udah kebal dindo.

    tapi, kalo mereka ampe ngomong kata2 yg menusuk hati. wah gue gak tahan deh.
    langsung mau nangis gue.
    aneh ya ? ckck.

    sabar dinda.
    kadang ortu emank nggak mau mengerti kita. mereka mau kita sempurna, harus lebih dari mereka dan balabala.
    tapi mereka jarank mau terbuka dengan kita, begitu juga sebaliknya.

    kalo menurut gue, loe harus lebih sering lagi share sama mereka, walopun mereka orang sibuk juga sempet2in aja.
    yg penting jgn ilang komunikasi.
    cerita ini-itu juga ndak apa dinda. kos buat gue, ortu itu t4 m**cur :p paling seru!
    haha

    dan ingak, walopun loe punya banyak masalah lain. Loe te2p harus men-solve(halah!) masalah yg lebih penting dulu.

    Dan menurut gue, hubungan dengan keluarga itu masih lebih penting setelah masalah agama dll. Terus, kalo loe ada salah, aio budayakan minta maap.

    haha
    Yoi Dinda??!
    gue crita berdasarkan pengalaman aja. haha
    maap klo krg berkenan 😛
    soal ny gue emank benih “baru” yg baru tumbuh sih. hehe
    😛 wekk

    buy : mika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s