Kata Pak Ustadz, Pacaran itu…

Sebetulnya dia menolak dipanggil ustadz, dia ingin dipanggil mas atau kak saja. Namanya Bang Benri. Memang dari perawakannya dia tidak terlihat seperti ustadz yang ‘berjenggot panjang’ atau ‘bersorban’. Jenggot punya, tetapi tipis. *haduh, penting ya ngomongin jenggot?* hehheh

Advertisements

Sebetulnya dia menolak dipanggil ustadz, dia ingin dipanggil mas atau kak saja. Namanya Bang Benri. Memang dari perawakannya dia tidak terlihat seperti ustadz yang ‘berjenggot panjang’ atau ‘bersorban’. Jenggot punya, tetapi tipis. *haduh, penting ya ngomongin jenggot?* hehheh

Bang Benri sengaja diundang ke sekolah saya hari ini untuk mengisi acara kajian bulanan, yaitu ceramah yang diikuti semua anggota rohis sekolah ataupun murid-murid muslim yang berminat.

Seorang teman saya bertanya di sesi tanya jawab dengannya. Tentang pacaran. Standar, karena sering ditanyakan. Namun kali ini saya benar-benar faham setelah mendengar ceramahnya.

Ada tiga resiko seseorang pacaran :

  1. Pertama, tidak ada ikatan yang melindungi. Seseorang bisa saja menyakiti pacarnya sendiri, tanpa takut akan apapun. Berbeda dengan seorang pasangan suami istri, yang akan berurusan dengan pengadilan jika salah satu dari mereka saling menyakiti. Jika anda sedang berpacaran, siaplah seandainya suatu saat disakiti.
  2. Kedua, menurutnya, pacaran adalah sarana kebohongan seseorang. Diceritakan kisah tentang suatu pasangan yang berpacaran selama 8 tahun, namun pernikahan mereka hanya bertahan selama 8 bulan. Karena selama 8 tahun, masing-masing dari dirinya berusaha menampilkan yang terbaik, bukan diri mereka yang sebenarnya. Ketika mereka menikah, masing-masing tidak siap menerima keburukan dari diri pasangannya karena tidak terbiasa. Jadi, jika memang anda-anda sedang pacaran, jadilah diri sendiri.
  3. Pacaran membawa kita jauuuh melayang, namun bisa menjatuhkannya dengan seketika. Jika teman-teman saya ditanya oleh guru agama mengapa pacaran, pasti mereka menjawab untuk motivasi sekolah. Memang, awalnya, ketika benar-benar sedang jatuh cinta, bisa menjadi motivasi. Namun ketika sekali saja sakit hati, pacaran bisa membuat kita menjadi super down, hingga menyebabkan frustasi, atau bahkan mungkin gila. So, siapkan mental anda agar tidak drop jika patah hati 😛

Itu yang dibilang Bang Benri. Saya lihat teman-teman di sebelah saya pada manggut-manggut kayak ngerti *padahal ngga tau juga sih*. lho? paraaaah. hehheh.

Tujuan saya menulis artikel ini bukan untuk melarang seseorang pacaran. Saya hanya menyampaikan apa yang dikatakan Bang Benri. Dan bukan berarti saya niat tidak akan pacaran seumur hidup saya. So far saya belum pernah, dan tidak pernah memikirkan hal itu karena tidak tau manfaatnya jika saya lakukan sekarang. Pendapat saya, pacaran itu dilakukan hanya untuk mengetahui lebih detail calon suami, yang benar-benar bakal menjadi calon suami, bukan sarana untuk gandengan di mall 😀

Semoga bermanfaat ^^. Kalo ada yg ngga setuju, jangan marah-marah ya. Saya hanya anak kecil yang masih lugu dan polos menyatakan apa yang saya dengar. *hahha, sok imut abis*

8 thoughts on “Kata Pak Ustadz, Pacaran itu…

  1. Maaf numpang komentar…

    ngga setuju sama yang nomor satu..mau pacaran kek, mau nikah kek, kalau ada kekerasan ya urusannya bisa kepengadilan 🙂

    untuk no 2 dan 3 no comment, 78% setuju.

    salam kenal 🙂

  2. hehe..seneng juga ada yang mau nulis apa yang abang sampaikan waktu itu. tapi sebagai konfirmasi, untuk point 1, maksudnya adalah dalam pacaran tuh kan gak punya ikatan resmi, jadinya sang pacar kalau selingkuh sah-sah aja. kan gak ada kekuatan hukum apapun. makanya, kalau pacaran, siap-siap diselingkuhi. gitu neng. eh dek (hehe. salam kenal ya..). jadi, betul kata si zka kalau kekerasan mah bisa dilaporin walau pacar sekalipun. zka, makasih ya. wassalam…

  3. “Pendapat saya, pacaran itu dilakukan hanya untuk mengetahui lebih detail calon suami, yang benar-benar bakal menjadi calon suami, bukan sarana untuk gandengan di mall”
    aku setuju ama yang itu tuh soalnya aku bukan orang yang mengharamkan pacaran, tapi (insyaallah) aku bukan penganut aliran “pacaran bebas”.
    menurutku orang harus sudah cukup “dewasa” sebelum memulai untuk saling mengenal atau pacaran, terutama si cowo, karena dalam pacaran apalagi nikah, cowo yang pegang kendali utama (sbg kepala keluarga kalo da nikah).
    dan karena aku belom merasa “dewasa”, makanya aku ngga pacaran sekarang (ngeles ajah, padahal mah ngga laku, hehehe :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s